Kejatuhan Manusia – Akar Dosa

Kejatuhan Manusia (01) – Akar Dosa
Khotbah oleh Pdt. Jethro Rachmadi (Berdasarkan Kejadian 3:1-9)

Kita telah menuntaskan bagian besar pertama dari Kalender Gereja, yaitu kisah tentang Yesus, mulai dari Advent hingga Kenaikan, dan Pentakosta menjadi momen peralihan ke bagian besar kedua: kisah umat Allah, yaitu Gereja. Dari kisah Sang Kepala, kita beralih ke kisah Sang Tubuh. Dalam bagian kedua ini, tema pembahasannya lebih luwes, tetapi secara umum fokus pada bagaimana kita sebagai umat Tuhan—Tubuh Kristus—seharusnya menjalani hidup. Hari ini, kita akan membicarakan satu tema yang sangat mendasar dan penting untuk diulang-ulang, yaitu mengenai dosa. Doktrin dosa biasanya dibagi menjadi dua topik besar: akar dosa (yang dibahas hari ini) dan akibat dosa (yang akan dibahas minggu depan).

Menemukan Harapan dalam Doktrin Dosa
Sebelum masuk ke pembahasan akar dosa, perlu dibicarakan mengapa topik dosa harus senantiasa diulang. Jawabannya adalah: justru melalui pemahaman akan dosa-lah kita dapat menemukan pengharapan. Hal ini mungkin terasa tidak masuk akal, sebab doktrin dosa sering diidentikkan dengan pengadilan dan penjatuhan hukuman, bukan pengharapan. Apalagi Teologi Reformed mengajarkan bahwa semua manusia berdosa dan rusaknya total. Namun, faktanya justru sebaliknya.

Pikirkan baik-baik: jika kita menyangkal keberadaan dosa, kita tidak akan mampu menghadapi semua kerusakan dan kejahatan di dunia ini. Jika manusia tidak jatuh dalam dosa, berarti kerusakan dan kejahatan yang kita lihat—seperti penindasan, pembunuhan, atau pemerkosaan—sudah ada sejak awal penciptaan. Dengan logika ini, kita tidak memiliki hak untuk memprotes, karena itu berarti kejahatan adalah bagian alamiah dari tatanan dunia. Sebagaimana kita melihat singa memangsa rusa sebagai proses alamiah yang tidak boleh dilarang, tanpa adanya dosa, kejahatan manusia pun akan dianggap “sudah dari sononya.” Sebaliknya, keberadaan dosa justru memberikan kita pengharapan; itu berarti pada mulanya tidaklah demikian, dan kita memiliki pijakan untuk melawan kejahatan. Inilah pola Kekristenan, di mana jalan menuju kehidupan sering kali terasa seperti kematian, dan mengakui dosa yang menyakitkan justru membuka jalan bagi kehidupan dan pertumbuhan.

Tiga Aspek Akar Dosa
Dari pembacaan Alkitab di Kejadian 3:1-9, kita menemukan tiga aspek utama dari akar dosa: akar dosa dalam hati, akar dosa dalam pikiran, dan akar dosa dalam perbuatan tangan.

  1. Akar Dosa dalam Sikap Hati (Ejekan/Nyinyir)
    Fokus kita sering kali tertuju pada pemutarbalikan firman Tuhan oleh ular. Namun, kebohongan setan tidak dimulai di sana. Sebelum kalimat pemutarbalikan, ada kalimat kunci: “Tentulah Allah berfirman: jangan kamu makan buah dari semua pohon di taman ini, bukan?” Kata ‘tentulah’ digunakan untuk menciptakan keragu-raguan, menunjukkan adanya ironi atau sarkasme. Ular tidak menyangkal firman Allah, melainkan mengejeknya.

    Inilah langkah pertama kemunduran iman: setan berusaha membuat manusia ikut tertawa mengejek bersamanya. Setan tidak memulai godaannya dari urusan logika, melainkan dari sikap hati terhadap Allah. Apologetika Kristen hari ini sering fokus pada reason for God (alasan logis keberadaan Tuhan), padahal kita juga harus fokus pada beauty of God (keindahan Allah). Inilah mengapa penginjilan tidak bisa hanya dilakukan oleh segelintir orang yang jago berargumen, melainkan harus didukung oleh seluruh Gereja yang menghadirkan kehidupan yang indah dan attractive, karena tanpa keindahan tersebut, segudang argumen logis tidak akan memiliki kuasa.
  2. Akar Dosa dalam Pikiran (Keraguan akan Kebaikan Tuhan)
    Poin kedua adalah kebohongan yang dimasukkan ke dalam pikiran manusia (Ayat 4-5): “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, pada waktu engkau memakannya, matamu akan terbuka, kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

    Setan tidak menyerang keberadaan, kuasa, atau kesucian Allah—fakta-fakta itu bahkan diyakini setan—tetapi yang ia serang adalah kebaikan Tuhan. Intinya, setan mengatakan: “Jika kamu taat pada Tuhan, kamu akan rugi, kamu bakal ketinggalan. Tuhan tidak mau yang terbaik bagimu.” Inilah yang paling krusial. Ketika kita dicobai, masalah utamanya bukanlah kita tidak tahu hukum Tuhan atau tidak percaya Tuhan itu ada, melainkan kita tidak percaya hukum Tuhan itu baik bagi kita.

    Daya tarik pencobaan terletak pada bagaimana dosa terlihat menarik (attractive) di mata kita, bukan karena logis. Kita curiga akan kebaikan-Nya, merasa bahwa di balik semua larangan dan hukum-Nya bukanlah kebaikan, dan kita menganggap “ikut Tuhan itu repot.” Ironisnya, kecurigaan inilah yang justru menjadi sumber semua kerepotan dan kerugian manusia. Akar dosa dalam pikiran adalah tidak adanya trust (kepercayaan) kepada Tuhan yang mendominasi hidup kita, sehingga kita berpikir “Tuhan tidak bisa dipercaya, jadi saya harus menaruh diri saya di tempat Allah.”
  3. Akar Dosa dalam Perbuatan Tangan (Mengambil Tempat Allah)
    Tindakan Adam dan Hawa mengambil buah memperjelas esensi dosa: dosa bukanlah mengambil hal yang jahat, tetapi mengambil hal yang baik (pengetahuan) pada waktu yang salah dan dengan wewenang yang salah. Alkitab tidak memberitahu jenis buahnya karena buah itu tidak penting. Sebagaimana dalam kasus pembunuhan yang bukan pisau-nya yang menjadi masalah, inti dosa bukan terletak pada objeknya. Buah dan pengetahuan itu sendiri adalah hal baik, tetapi mengapa dilarang?

    Larangan tersebut adalah ujian, dan dengan mengambil buah itu, manusia melakukan esensi dosa yang paling dalam: mengambil hal yang baik, menggunakannya untuk tujuan yang mereka anggap baik, namun masalahnya: ini baik di mata siapa. Dosa adalah ketika manusia menempatkan dirinya sebagai otoritas tertinggi, memutuskan bagi dirinya sendiri apa yang baik dan apa yang jahat—mengambil tempat Allah.